• Berita Terkini

    Tuesday, October 25, 2016

    96 Persen Anak Berkebutuhan Khusus dari Keluarga Miskin

    sudarno ahmad/ekpsres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia mencapai 1,6 juta anak. Dari jumlah tersebut hanya sebanyak 164 ribu anak yang mengenyam pendidikan. Hal ini lantaran 96 persen anak berkebutuhan khusus berlatarbelakang dari keluarga kurang mampu.

    Hal itu diungkapkan Psikolog RSUD Banyumas, Ratih Winarti, pada acara sosialisasi penanganan disabilitas yang diselenggarakan oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kebumen. Acara tersebut digelar GOW di Ruang Jatijajar Komplek Pendopo Bupati, Selasa (25/10/2016).

    Menurut Ratih, masih tingginya jumlah anak berkebutuhan khusus yang belum memperoleh pendidikan karena kesadaran orangtua dan masyarakat masih rendah. Padahal anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak untuk memndapatkan pendidikan yang layak.  "Selain itu, jumlah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di Jawa Tengah juga masih terbatas," kata Ratih, dalam paparannya.

    Adapun yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus, diantaranya anak tuna netra, anak tuna rungu, anak tuna grahita, anak tuna laras, autis serta anak berkebutuhan khusus lainnya.

    Wanita asli Krakal, Kecamatan Alian, ini menegaskan mereka berhak mendapat perlindungan dari sakit, mendapat kasih sayang. "Mereka berhak mendapat stimulus untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," tegasnya.

    Sementara itu sosialisasi penanganan disabilitas diikuti oleh 65 peserta. Mereka berasal dari perwakilan organisasi wanita yang berada di bawah naungan GOW, kepala Pos PAUD dan pengurus GOS.

    Ketua Umum GOW Kabupaten Kebumen Ny Dede Siswoyo, berharap setelah kegiatan sosialisasi itu para peserta dapat membagikan ilmunya kepada tetangga lainnya. "Kita harapkan para peserta mau menularkan ilmunya kepada orang-orang disekitarnya," ujar Ny Dede Siswoyo, disela-sela acara.

    Ny Dede Siswoyo, mengungkapkan diselenggarakan sosialisasi tersebut karena masih banyaknya anak berkebutuhan khusus yang belum ditangani dengan baik. "Karena apapun alasannya anak berkebutuhan khusus butuh mandiri," tandasnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top