• Berita Terkini

    Senin, 19 September 2016

    Tak Punya Rumah, Pria ini Tinggal di Bekas Gedung Bioskop Rusak

    SAEFUR/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Di saat orang lain berlomba-lomba membangun dan tinggal rumah mewah, apa yang menimpa Pandiman (53) ini sungguh membuat miris. Betapa tidak. Di usia lanjutnya, dia harus "tinggal" di bekas gedung bioskop Star Jalan A Yani.

    Demi menyambung hidup, dia mengayuh becak. Lagi-lagi, becak itu bukan miliknya sendiri melainkan harus menyewa. Belitan kemiskinan juga memaksanya menambah penghasilannya dengan mengais sampah menjadi pemulung.

    Ditemui saat tengah mangkal di depan Taman Kota, Pandiman mengaku penghasilannya tidak menentu. Dalam sehari, rata-rata dia mendapatkan penghasilan Rp 25- 30 ribu. Tak jarang, tak ada uang sama sekali dia dapatkan. Bila itu terjadi, Pandiman nyambi menjadi pemulung dengan mengais sampah di sekitar alun alun  atau bak-bak sampah yang ada di Kota Kebumen. "Dari hasil mengumpulkan sampah selama seminggu, paling dapat Rp 30.500," ujarnya dalam bahasa Jawa, Minggu malam (18/9/2016).

    Pandiman mengaku hidup sendiri di Kebumen. Pria yang mengaku asal Kecamatan Karangsambung itupun tak punya keluarga. Dari tiga anaknya, semua sudah menikah dan memilih untuk tinggal di luar kota. Sementara, sang istri disebutnya tinggal di sebuah desa di Kecamatan Karangsambung. Namun ia sendiri lupa alamat baik RT RW lantaran saking lamanya tak pulang ke rumah.  "Nek bojo kulo onten `teng Karangsambung desa Era. Nek alamate nggeh niku kulo lali," jawabnya.

    Tak tahu harus pulang kemana, Pandiman menjadikan  bekas gedung Bioskop Star Jalan A Yani sebagai "rumahnya".  Di lahan yang tersisa di bangunan tua nyaris ambruk itu, Pardiman menanami singkong.

    Di tempat itu, juga menjadi tempat mangkalnya pada siang hari. Kalau malam,  Pandiman tidur di atas becak sambil menunggu penumpang.

    Baca juga:
    (Sakit Parah, Tasliyah Butuh Bantuan)

    Pandiman mengatakan, becak yang menjadi mata pencahariannya itu bukan miliknya, namun dari hasil menyewa. Setiap harinya, dia harus menyetor Rp 2500 bagi pemilik becak. Selebihnya, baru dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Kalau tak ada uang, makan utang dulu di warung," ujarnya.

    Baca juga:
    (15 Tahun Lumpuh, Gadis di Banyumas ini Tinggal di Gubug Reyot)


    Sandi (27) salah satu pedagang sembako yang berada di samping taman kota mengatakan, Pandiman sering mangkal di kawasan itu. Lantaran kondisinya yang memelas, Pandiman seringkali mendapat bantuan makanan dari warga. Sandi termasuk diantara orang-orang yang sering memberikan makanan kepada Pandiman. "Ya kasihan melihatnya. Takutnya kalau sakit tak ada yang ngurusi. Apalagi dia tak punya kartu BPJS," ujarnya.(saefur/cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top