• Berita Terkini

    Friday, September 16, 2016

    Pak Lurah Giritirto "Sulap" Akar Pohon Jadi Rupiah

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Bagi sebagian orang, akar pohon hanya diangggap limbah dan sering berakhir sebagai kayu bakar. Namun di tangan Teguh Prasetyo, akar pohon bisa disulap menjadi kerajinan yang artistik serta bernilai ekonomi tinggi.

    Di tangan Teguh, akar pohon itu bisa menjadi perlengkapan rumah tangga seperti meja, kursi, rak buku, tempat televisi dan lain.

    Ditemui Ekspres di kediamannya, Jalan Raya Kebumen – Banjarnegara Km 25 RT 1 RW 1 Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam, Jumat (16/9/2016), Teguh mengatakan, kerajinan akar pohon bisa menjadi tren sekaligus peluang bisnis yang sangat menjanjikan.

    Bahkan perabotan dari akar pohon mempunyai nilai lebih yakni kuat dan awet. Maka perabotan ini dapat diwariskan sampai anak cucu. "Bahan atau akarnya juga ada yang sudah berumur ratusan tahun," kata pria yang juga Kepala Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam tersebut.

    Baca juga:
    ( Di Tangan Rahmat Satibi, Biji Jenitri jadi Cincin )


    Orang-orang zaman dulu lanjut Teguh, selalu menyarankan agar setiap rumah dilengkapi dengan perabot yang terbuat dari kayu tua. Ini mengandung filosofi yakni kuat dalam menghadapi tantangan rumah tangga serta memiliki aura positif.

    Selain akar jati, Teguh juga memanfaatkan akar mahoni, kelapa, dan akar pohon saman. Akar tersebut dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi perlengkapan rumah tangga yang bernilai seni tinggi. Misalnya saat membentuk kursi yang menyesuaikan lekukan akar tersebut. Bahkan ada akar yang menyambung satu sama lain hingga membentuk lingkaran yang disebut Oyod Mimang.

    Selain itu banyak juga akar yang menempel dari dua pohon. "Ini yang sering dipakai untuk kursi pelaminan. Konon agar kedua mempelai berumur panjang sampai kakek nenek atau awet dalam berumah tangga," terangnya.

    Teguh menjelaskan, kerajinan akar pohon membuka peluang kerja bagi masyarakat. Ini secara tidak langsung ikut mengentaskan pengangguran. Karena produksi kerajinan tersebut bernilai seni tinggi, Teguh biasanya menjual kepada pecinta akar dari Rp 8 juta hingga Rp 25 juta.
    Selain itu Teguh juga menampung barang-barang kuno yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh masyarakat. Seperti lesung dan meja kursi kuno. "Barang-barang tersebut didaur ulang kembali menjadi lebih bagus," ucapnya.(mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top