• Berita Terkini

    Senin, 05 September 2016

    Nilai Rapor 0, Orang Tua Protes

    ILUSTRASI
    JAKARTA – Danny Daud Setiana, ayah siswi di salah satu SMA negeri di Bandung mencari keadilan untuk putrinya hingga ke Jakarta. Itu setelah DP, putrinya, dinyatakan tidak naik kelas lantaran nilai matematika di rapornya 0. ”Tidak ada kesempatan remedial untuk putri saya,” ungkap Danny di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Jakarta, kemarin (4/9).


    Alasan pihak sekolah, kata dia, DP absen saat ujian matematika di sekolahnya. Padahal, di saat bersamaan, putrinya tengah dalam kondisi sakit Astigmat Miop Compositus ODS, sehingga tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. ”Sakitnya anak saya dianggap kemalasan oleh gurunya,” tuturnya.

    Akibat keputusan tidak naik kelas itu, kondisi psikologi DP sempat terpuruk. Minat belajar di sekolahnya yang baru menurun. Bahkan, DP juga sempat punya keinginan bunuh diri. Kondisi itu membuat pihak keluarga harus mendatangkan psikolog dan guru agama. ”Alhamdulillah sekarang sudah mulai percaya diri lagi dengan sistem pendidikan walaupun masih fluktuatif,” ujarnya.


    Danny menerangkan, pihaknya sebenarnya sudah mengirim surat keterangan sakit dari dokter. Putrinya juga mengumpulkan tugas, terutama pelajaran matematika kelompok peminatan. ”Sakitnya itu mulai pertengahan semester II ini, tapi karena suratnya tidak sampai akhirnya saya buat surat keterangan dokter tertanggal 13 Juli 2016,” jelasnya.


    Atas perlakuan sekolah itu, pihaknya pun berencana membawa masalah tersebut ke komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI). Danny menganggap, ada pelanggaran dan unsur kelalaian dari pihak sekolah yang membiarkan nilai rapor matematika anaknya 0. ”Tidaklah mungkin siswa memperoleh nilai nol di rapor karena ketentuan rapor itu kan nilai semester ganjil dan genap diakumulasi,” katanya.


    Upaya menyelesaikan persoalan lewat jalur mediasi sudah dilakukan pihak keluarga DP. Namun, berbagai alasan membuat dari pihak sekolah membuat Danny tidak pernah bertemu kepala sekolah. Karena itu, dia pun menempuh jalur advokasi melalui federasi serikat guru Indonesia (FSGI).


    ”Sebelum Lebaran saya sudah hubungi pihak sekolah untuk bertemu kepala sekolah. Sehabis libur Lebaran saya hanya bertemu humas dan disarankan untuk datang besok siangnya. Ketika saya datang besok siangnya, dia (humas, Red) malah bilang ke saya kenapa datangnya siang ?,” ingatnya.


    Kondisi yang berlarut-larut itu yang membuat psikologi DP semakin terpuruk. Apalagi beberapa kali putrinya mendengar pernyataan guru Matematika dan Bahasa Indonesia yang menyebut murid bermasalah. ”Nilai Bahasa Indonesia anak saya juga tidak wajar, anak saya dapat nilai 38,” bebernya. (tyo)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top