• Berita Terkini

    Sunday, September 25, 2016

    Lebih Dekat dengan Kesenian Wayang Sinema

    SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
    Dari Tidak Sengaja, Kini Digemari Banyak Orang

    Banyak cara digunakan untuk menarik minat para generasi muda agar kembali mencintai kesenian tradisional. Salah satunya seperti yang dilakukan Aneng Kiswantoro, yaitu 

    menciptakan wayang sinema dari ketidaksengajaan. Seperti apa?
    ------------------
    SIGIT ANDRIANTO
    -------------------
    MENONTON pertunjukan wayang, seperti menonton film. Kira-kira begitulah jika didefinisikan secara sederhana apa itu wayang sinema. Pasalnya, penonton menyaksikan pertunjukan wayang sinema hanya melalui siluet yang tergambar dalam kelir (screen). Meski demikian, wayang sinema ini bisa terlihat lebih hidup dengan perpaduan audio yang katanya juga diciptakan oleh Aneng Sendiri.

    ”Perbedaan wayang sinema dengan wayang konvensional adalah pada konsepnya yang kolosal dengan main di belakang kelir. Penonton melihat siluetnya yang menciptakan kesan berbeda,” ujar Aneng Kiswantoro, dalang dan juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta saat ditemui beberapa waktu lalu sebelum pentas di Gedung Bulog Semarang.

    Sejak kapan wayang sinema muncul? Aneng pun menceritakan awal mula terciptanya wayang sinema pada 2014 silam. Semua berawal dari ketidaksengajaan. Kala itu, dirinya mendapatkan tugas dari fakultas untuk menampilkan karya berdurasi sepuluh menit. Sementara karya yang sering ia pentaskan biasanya wayang biasa/ konvensional. 

    Nah, sehari menjelang pentas, kru yang biasanya ikut Aneng ndalang, ternyata tidak bisa latihan. Akhirnya ia berpikir dengan kemajuan teknologi yang ada dan kebiasaannya membuat lagu, mengantarkannya pada ide untuk merekam sendiri musiknya. ”Saat itu yang paling mendapatkan apresiasi penonton justru pertunjukan wayang sinema ini. Akhirnya dari situ diapresiasi oleh fakultas. Dan pada saat dies natalis, kami mendapatkan kesempatan untuk pentas tunggal,” kenangnya.

    Sebelum pementasan, tuturnya, audio memang sudah ia rekam terlebih dahulu. Sehingga saat pemetasan, wayang tinggal dimainkan secara langsung oleh 15 krunya yang juga merupakan mahasiswanya dari ISI Jogjakarta. Komposisi audio yang pas, membuat pertunjukan wayang sinema ini seakan seperti nyata. 

    Bahkan, kata Anang, ada seorang mahasiswa dari Kalimantan yang tersentuh dengan cerita wayang yang ia pentaskan, padahal si mahasiswa tidak mengerti bahasa yang digunakan.
    ”Pak, saya tidak mengerti bahasanya. Saya tidak bisa tahu mengenai apa yang menjadi percakapannya, tapi saya menangis melihat pertunjukan wayang yang bapak pentaskan,” ujar Aneng menirukan mahasiswa tersebut.

    Wayang yang digunakan dalam pertunjukan wayang sinema ini pada dasarnya adalah wayang kulit biasa. Aneng hanya menembakkan proyektor yang sudah didesain tampilannya pada wayang ke kelir sehingga siluet wayang akan muncul di kelir yang ada. ”Tidak terlalu ribet, karena wayang sinema hanya membawa kelir dan audio saja, kemudian 

    laptop dan proyektor,” ujarnya.

    Mengenai cerita, Aneng sudah pasti menggunakan cerita wayang. Namun ia memodvikasi cerita yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Ia contohkan, ketika ia 

    menampilkan tokoh A, maka ia akan mengambil sifat-sifat penting dari tokoh tersebut. ”Kemudian kami mencoba memfiksikan. Naskahnya kebetulan ditulis oleh saya sendiri, audionya juga direkam saya sendiri,” jelasnya. Ia mementaskan wayang dengan cerita Ada Apa dengan Shinta. Tema itu seperti film yang sedang banyak digandrungi 
    ebagaimana tokoh wayang Rama-Shinta.

    Selain memodifikasi cerita, untuk pentas di SMP, Aneng juga memodifikasi bahasa yang digunakan. Bahasa untuk pementasan dengan penonton siswa SMP akan dibedakan dengan bahasa yang ia gunakan saat pementasan di depan penonton mahasiswa dan dosen. Untuk penonton mahasiswa dan dosen, ia biasanya megambil tema percintaan dan perselingkuhan dengan bahasa dan cerita yang lebih berat.

    Waktu pementasan wayang sinema, tandasnya, tidak terlalu lama. Hanya sekitar 45 menit seperti lama sinema yang diputar di bioskop. Tujuannya, untuk menghindari kejenuhan penonton, terlebih jika penontonnya adalah siswa SMP. ”Kalau wayang konvensional mungkin kurang diminati karena terlalu lama dan kurang to the point sehingga banyak orang menjadi bosan,” Aneng mengira-ngira. (*/ida/ce1)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top