• Berita Terkini

    Friday, September 16, 2016

    Di Mata Keluarganya, Pelaku Pembunuhan di Rembang Dikenal Anak Penurut

    ilustrasi
    REMBANG – Tak ada keanehan yang terlihat dari tersangka Ahmad Safi'i sebelum dia membunuh Mahfud. Kebetulan, dia diminta ayahnya mengantar kotoran hewan dari rumahnya menuju ladang di belakang SDN Kedungringin.

    Sehari-hari, Safi'i rutin membantu orang tuanya mengurus kambing yang diternak. Dialah yang biasanya pergi ke ladang mencari makan untuk kambingnya. Persis di sisi rumahnya, Sofyan memelihara sekitar 50 ekor kambing.

    Kamis pagi (15/9) lalu, kedua orang tuanya, yakni Sofyan dan Darwiyati tak melihat gelagat aneh dari putra ketiganya itu. Namun ayah tersangka kaget saat beberapa anggota polisi mendatangi rumahnya untuk mencari putranya tersebut. Ternyata, petugas mencari keberadaan Safi'i usai terlibat cekcok dan perkelahian yang menyebabkan kematian Mahfud di SDN Kedungringin.

    Polisi menggeledah seluruh isi rumah di RT 3/RW 3, Desa Kedungringin, Sedan, itu. Namun keberadaan Safi'i tak ditemukan di rumah sederhana tersebut. Dia pun tak mengetahui ke mana anaknya pergi. Setahu dia, Safi'i memang pergi ke ladang untuk mengantar kotoran hewan. Petugas hanya menemukan tatah kayu yang terdapat bekas darah. Diduga, benda itulah yang digunakan Safi'i menghabisi Mahfud.

    Setelah memperoleh informasi tersebut, bersama Kades Kedungringin Masnun lantas mengajak keluarga musyawarah untuk mencari keberadaan Safi'i. Kades Masnun mencoba meyakinkan pihak keluarga jika Safi'i menyerahkan diri, maka proses hukum selanjutnya dapat berjalan baik.

    Sekitar pukul 11.00, dua paman Safi'i, Masnun, Babinsa, serta unsur perangkat desa lainnya berhasil menemukan keberadaanya. Dia berada di pinggiran sawah tak jauh dari rumahnya. Setelah dibujuk, pria lajang tersebut akhirnya mau menyerahkan diri ke Polsek Sedan. Dia lantas dibawa ke Polres Rembang untuk menjalani proses hukum selanjutnya.

    Paman Syafi’i, Sujono yang ditemui di rumahnya kemarin menjelaskan, sempat berbicara dengan keponakannya tersebut. Termasuk menanyakan perihal peristiwa di SDN Kedungringin. Safi’i mengakui baru saja cekcok dengan Mahfud. ”Habis kejadian itu, dia langsung lari ke sawah karena takut diamuk warga,” jelasnya.

    Keponakannya itu juga menceritakan kenapa terlibat cekcok dengan Mahfud. Menurutnya, Safi’i dihentikan korban ketika melintas di jalan menuju ladang yang bertepatan di sebelah SDN Kedungringin. Safi’i yang tak mau turun dari motor lantas dihampiri dan dipukul Mahfud. Setelah itu, terjadilah perkelahian di antara keduanya.

    Bapak tersangka Syafi’i, Sofyan menambahkan, anak kedua dari tiga bersaudara ini memang dikenal pendiam dan baik di mata tetangga maupun keluarga. Safi’i hanya berbicara ketika diajak bicara dengan orang lain. Selama ini tersangka yang masih bujang tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. ”Kalau sama orang tua ya baik, disuruh apa saja nurut,” tambahnya.

    Pria yang terkadang menjual ternaknya ke Pasar Hewan Kragan ini mengaku, belum bertemu dengan Safi’i sejak peristiwa di SD. Dia tak ikut mencari keberadaan anaknya. Hanya dua paman yang dimnta ikut mencari sebagai perwakilan keluarga. ”Semalam tidak bisa tidur, Mas, kepikiran anak saya. Belum tahu mau jenguk kapan, belum ada waktunya,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di rumahnya kemarin.
    Hal senada diungkapkan Kades Masnun. Menurutnya, Safi'i merupakan sosok yang cenderung pendiam. Dia juga tak pernah terlibat keributan dengan warga. Kesehariannya memang dihabiskan di ladang untuk mengurus ternak. (lid/lil)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top