• Berita Terkini

    Tuesday, September 20, 2016

    Christian Salomo, Korban Bom JW Marriott Berbagi Kisah

    ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO
    Masih Ada Sisa Proyektil di Dalam Tubuh


    Masih ingat tragedi bom Kuningan, tepatnya di Kedubes Australia, 9 September 2009 silam? Ledakan ini menewaskan 9 orang dan ratusan lainnya luka-luka. Nah, di antara korban luka-luka, seorang di antaranya Christian Salomo,40.
    -----------------------------
    ANTONIUS CHRISTIAN, Solo
    -----------------------------
    CHRISTIAN Salomo datang ke Kota Bengawan dalam sebuah acara yang digagas Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Novotel Solo Hotel, Senin-Selasa (19-20/9). Usai acara, Jawa Pos Radar Solo berkesempatan menemui Christian untuk mengorek kisah terkait tragedi Bom Kuningan.

    Christian waktu itu sedang direkomendasikan sebagai supervisor Satpam di Kedubes Australia di Jakarta. Saat tragedi Bom Kuningan, dia menjadi korban langsung aksi tersebut. Waktu itu dia hanya berada di radius 15 meter dari lokasi ledakan. Sumbernya dari sebuah bom yang berada di dalam mobil boks.

    Waktu kejadian, Christian sedang berkoordinasi dengan sesama security di depan gerbang masuk Kedubes Australia. “Ada sedikit masalah di luar. Kemudian saya keluar untuk berkoordinasi dengan teman-teman. Kami juga sempat bercanda. Tiba-tiba sekitar 15 menit, ada ledakan dasyat dan tubuh saya terpelanting 1 meter ke tembok yang ada di belakang,” kenangnya.

    Kuatnya ledakan membuat tembok itu ikut roboh dan menimpa kakinya hingga tulang kakinya remuk. Pecahan logam-logam juga ikut terhempas dan sebagian menancap di sekujur tubuhnya. “Saya setengah sadar, tubuh saya seperti ada seng yang menancap. Kemudian dengan sisa-sisa tenaga saya coba copot satu-persatu,” ungkap warga Kelurahan Guntur, Kecamatan Setia Budi, Jakarta Selatan ini.

    Di sekitarnya, hanya asap putih mengepul pekat yang terlihat. Samar-samar dia juga menlihat banyak korban tergeletak bersimbah darah. Bahkan beberapa gedung di daerah Kuningan yang dekat dengan lokasi ledakan ikut hancur.

    Setelah cukup sadar, Christian coba melambaikan tangan untuk meminta pertolongan. Beruntung datang dua rekannya yang saat kejadian berada di dalam gedung untuk memberi pertolongan. “Saya langsung diangkat dan dipapah sambil jalan kaki menuju Rumah Sakit MMC (Metropolitan Medical Center, Red) yang jaraknya kira-kira 400 meter. Karena kaki saya sudah remuk, saya harus menahan sakit selama perjalanan,” urainya.

    Setiba di RS MMC, sudah banyak korban bom yang juga dilarikan ke sana. Christian pun harus rela menunggu antrean untuk diperiksa di lobi rumah sakit. Karena sudah tidak dapat menahan sakit, akhirnya dia dirujuk ke Rumah Sakit Medistra menggunakan ambulans.
    “Sepertinya baru saya korban Bom Kuningan yang di bawa ke RS Medistra. Jadi langsung mendapat pertolongan. Setelah masuk IGD, saya sempat memberikan KTP, setelah itu pingsan,” ungkapnya.

    Akibat lukanya, Christian harus menjalani delapan kali operasi besar untuk memulihkan kakinya dan rahang bawahnya yang patah. Belum termaksuk operasi kecil untuk mengambil proyektil yang masuk ke tubuhnya. Sedikitnya ada sekitar 600 jahitan akibat luka-luka tersebut.

    “Ada proyektil yang di dalam tubuh saya. Tepatnya di belakang mata, dirahang bawah, dan paling besar ada di paha sebelah kanan. Menurut dokter, kalau diambil bisa membahayakan jaringan tubuh dan menimbulkan pendarahan. Bahkan bisa diamputasi,” bebernya.

    Untungnya, selama masa perawatan, dia mendapat bantuan dari berbagai pihak. Baik dari pemerintah, maupun dari Yayasan Australian Aid (Ausaid). “Biayanya setengah dari Indonesia, setengah dari Ausaid. Biaya paling banyak untuk membeli obat,” ujarnya.

    Tak hanya luka fisik, psikis Christian ikut terganggu. Terutama tiap kali mendapati mobil boks yang mendekat. “Kalau ada mobil boks masuk gedung tempat saya kerja, saya ambil ancang-ancang masuk. Pernah juga pas jalan di mobil, ada mobil boks, saya bilang ke sopir untuk jaga jarak,” tuturnya.
    Sebagai korban, Christian tidak menaruh dendam sama sekali dengan pelaku bom bunuh diri yang diidentifikasi sebagai Heri Kurniawan alias Heri Golun. “Tidak ada kata seindah maaf,” ringkasnya. (*/fer)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top