• Berita Terkini

    Wednesday, September 14, 2016

    Berkat Mangrove, Sukamsi Raih Penghargaan Nasional

    SUDARNOAHMAD/EKSPRES
    Sempat Dimusuhi Warga Sebelum Diundang ke Istana 



    Sempat mendapat protes dari warga, tak membuat Sukamsi bersama KPL Pansela berhenti menanam bakau di bantaran Sungai Bodo Ayah. Perjuangan kerasnya saat ini pun mulai terlihat dengan asrinya Hutan Mangrove di Kawasan Pantai Logending. Bahkan berkat ketekunannya, mengantarkan Sukamsi menjadi Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) terbaik nasional tahun 2016.
    ------------------------
    Sudarno Ahmad Nashori, Ayah
    -----------------------

    Bantaran Sungai Bodo yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Kebumen dengan Cilacap, kini mulai lebat oleh rimbunnya hutan mangrove. Keberadaan Kawasan Hutan Mangrove Logending tak bisa dilepaskan dari inisiatif Sukamsi (42). Tahu daerahnya rawan tsunami, abrasi, erosi dan banjir, Sukamsi merintis penanaman mangrove di kawasan tersebut.

    Usaha awal tidaklah seindah yang dibayangkan. Banyak mangrove yang mulai tumbuh bagus malah ditebang warga untuk kayu bakar. Peristiwa tsunami Pangandaran 2006 yang begitu parah menerjang Pantai Logending, mendorong Sukamsi makin mantap menanami sepanjang Muara Sungai Bodo dengan pohon mangrove.

    Ditemui di Rumah Mangrove Ayah, Sukamsi mengatakan, terjangan tsunami yang telah menyapu sebagian besar lahan di kawasan pesisir Pantai Ayah, pada 2006 menyadarkannya bahwa hutan mangrove ternyata bisa menjadi penghalau laju air bah atau ancaman tsunami.

    Sukamsi yang sejak kecil terbiasa dengan gerakan-gerakan pelestarian alam pun tergerak membentuk organisasi perlindungan hutan, yang fokus kepada pemeliharaan kawasan hutan pantai. Berdirilah Kelompok Peduli Lingkungan Pantai Selatan (KPL Pansela) pada 2007.

    Bersama KPL Pansela, Sukamsi aktif menyosialisasikan berbagai hal tentang pemeliharaan lingkungan kepada nelayan-nelayan kecil, khususnya mereka yang beroperasi di pesisir pantai Ayah. Patut diacungi jempol, Sukamsi dan KPL Pansela melibatkan sedikitnya 25 anak jalanan yang dulu bekerja sebagai tukang parkir, pengamen, asongan bahkan tukang palak. Serta bekas narapidana untuk menanami dan melestarikan Mangrove Logending.

    Mereka direkrut oleh Sukamsi dalam pengembangan hutan bakau, untuk menjadi anggota KPL Pansela. Sebelum sosialisasi pelestarian bakau digalakkan, Sukamsi kerap menyaksikan petani tambak menebang kayu bakau untuk dijadikan tambak. Akibatnya, luas wilayah bakau berkurang, dan menyebabkan bencana abrasi.

    Para nelayan pun dengan leluasa memotong akar pohon bakau dan ranting-rantingnya supaya memudahkan mereka saat menebar jaring. Mereka tidak memikirkan kelangsungan ekosistem. Meski demikian, aksi KPL Pansela sempat membuahkan protes dari para nelayan dan kelompok masyarakat lain. Mereka marah karena penanaman bakau yang dilakukan oleh anggota KPL Pansela mengganggu pencarian ikan.

    Bahkan, Sukamsi dan anggota KPL Pansela pernah menemukan ratusan bakau muda yang mereka tanam rusak parah karena dicabuti. Padahal, proses menanam bakau cukup sulit, harus menyelam dan menelusuri area berlumpur.  "Awalnya, banyak penolakan dari teman-teman yang saya ajak bergabung dalam kegiatan ini, karena membangun hutan bakau sangat berat," kenang Sukamsi.

    Tak hanya itu, medan jelajah berair, hasil kayu yang tidak bisa dijual, sulit mendapatkan bibit dan konsep swadaya murni juga menjadi kendala. "Pikir saya waktu itu, eks anak-anak jalanan binaan saya bisa diberdayakan," ujarnya.

    Mereka memilih menanam bakau jenis Rhizophora Mucronata karena memiliki berbagai keunggulan. Rhizophora Mucronata mampu menghimpun lumpur dengan akarnya yang menjulur dari atas ke bawah. Lumpurnya gembur sehingga disukai ikan, kepiting, udang, serta menjadi habibat hewan lain. Selain itu menghasilkan buah yang bernilai ekonomis.

    Penanaman bibit bakau dilakukan secara swadaya dengan didukung Pemkab Kebumen dan berbagai pihak. Saat ini tidak kurang dari 35 hektare lahan di kawasan Pantai Legending hingga Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, telah menjadi hutan mangrove. "Kami masih harus bekerja keras karena masih ada sekitar 25 hektare lahan yang perlu mendapat perhatian," ujar Sukamsi.

    Untuk memenuhi kebutuhan bibit bakau, Pansela memiliki kebun bibit sendiri yang setiap bulan mampu menghasilkan 4.000 hingga 5.000 bibit bakau siap tanam. Selain itu, pernah mendapat program kebun bibit rakyat (KBR) yang berhasil menghasilkan 60 ribu lebih bibit bakau dari target 50 ribu bibit.

    Setelah bertahun-tahun memberikan pemahaman dan melakukan berbagai kerja sama dengan masyarakat, Sukamsi kini bisa bernafas lega. Ia dan anggota Pansela tidak lagi harus merasa khawatir ribuan mangrove yang sudah ditanamnya akan rusak. Kesadaran masyarakat perlahan mulai timbul.

    Tidak hanya pulih dari sebelum bencana tsunami, tetapi makin asri oleh hijaunya rerimbunan pohon mangrove berbagai usia tanam. Menelusuri kawasan hutan mangrove itu membuat siapa pun akan terkagum-kagum oleh keindahan panorama di muara Sungai Bodo tersebut.

    Perpaduan antara sungai, pohon mangrove, dan deretan perbukitan karst Gombong Selatan yang anggun, menjadikan menyusuri hutan mangrove laksana mengajak pada tadabur alam. Menjadikan lebih intim dengan alam dan lingkungan.

    Masyarakat sekitar pantai mulai memperoleh banyak manfaat dari keberadaan hutan mangrove itu. Tak hanya keuntungan ekologi, mereka mendapat sumber ekonomi dari pembibitan kepiting dan udang yang mampu dijual dengan harga tinggi.

    Para nelayan pun mulai dapat menemukan kembali ikan terusan sejenis kakap putih yang sudah puluhan tahun menghilang seiring kerusakan ekosistem hutan bakau. ‘’Kami menyadari potensi bencana di kawasan ini, sehingga perlu upaya penanganan.
    Ekosistem mangrove menyajikan fenomena alam yang beragam, mulai dari keanekaragaman jenis mangrove, jenisjenis fauna yang terdapat dalam ekosistem tersebut seperti burung, mollusca (siput atau keong), ikan, jenis-jenis crustacea (kepiting) dan hewan-hewan lainnya.
    Atas kerja kerasnya itu, Sukamsi pun diganjar sebagai Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) terbaik nasional. Atas prestasinya tersebut Sukamsi pun berkesempatan diundang oleh Presiden Jokow ke Istana Negara pada peringatan 17 Agutus lalu.
    Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Kebumen Djoenaidi Faturakhman menjelaskan, Sukamsi dinilai layak menerima penghargaan tersebut. Karena kiprahnya dalam pencegahan ilegal loging, penanaman dan Pengelolaan hutan. Baik hutan rakyat dilahan kering maupun hutan pantai (mangrove) di lahan basah dan berair. "Termasuk pengelolaan dan pengembangan jasa wisata dan lain-lain," tandasnya.(*)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top