• Berita Terkini

    Monday, August 8, 2016

    Warga "Sandera" Perahu Wisata di Obwis Mangrove Ayah

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Belasan orang "menyandera" dua buah perahu pengantar wisata di kawasan obyek wisata mangrove Kecamatan Ayah, Senin (8/8/2016). Insiden ini diduga buntut persoalan pengelolaan kawasan yang kini menjadi salah satu obyek wisata favorit di Kebumen tersebut.

    Informasi yang berhasil dihimpun, kejadian itu terjadi siang hari. Saat itu, belasan orang dengan tiba-tiba menyita dua perahu masing-masing milik Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan milik Dinas Kehutanan Kabupaten Kebumen. Dua perahu itu biasa dipergunakan pengelola obwis mangrove untuk mengantar para wisatawan dalam layanan wisata edukasi menyaksikan mangrove dari dekat.

    Sekretaris Tagana Kebumen sekaligus pengurus Kelompok Peduli Lingkungan (KPL), Agus Saptanudin membenarkan peristiwa itu. Dia mengatakan, hingga kemarin belum tahu dari kelompok mana orang-orang yang menyita perahu bagi para wisatawan itu. Setahu dia, orang-orang itu datang dan meminta mereka menghentikan operasional perahu. Padahal saat itu, mereka baru saja mengantar wisatawan yang berkunjung ke tempat itu. "Mereka datang dan mengangkat perahu dari dermaga dan kemudian membawanya menggunakan truk," katanya Senin (8/8).

    Menurutnya,  saat kejadian, dia sudah berbicara baik-baik serta memberi penjelasan upaya pelestarian lingkungan yang dilakukan KPL di kawasan itu. Salah satunya menjelaskan manfaat keberadaan mangrove yang juga dirasakan warga sekitar. Salah satunya, udara segar yang bisa langsung dirasakan warga. Belum lagi, fungsi mangrove  di muara Sungai Bodo itu sebagai penahan abrasi. Namun, tampaknya warga belum bisa menerima penjelasannya. "Munculnya kawasan wisata hanya jadi bonus. Ada manfaat lain yang langsung dirasakan warga,"ujarnya.

    Kendati menyayangkan aksi warga, Agus Saptanudin menyatakan tak berpikir negatif. Menurutnya, persoalan itu akan diselesaikan melalui musyawarah. "Saya berpikir positif saja. Apa yang dilakukan warga ini lebih karena faktor ketidaktahuan warga," ujarnya.

    Salah satu warga yang mengambil perahu, Mislan membantah pihaknya menyita apalagi menyandera perahu di kawasan obyek wisata mangrove Kecamatan Ayah. Menurutnya, yang mereka lakukan sekedar mengamankan. Kini perahu itu dititipkan di Poslanal Logending sementara mesin perahu berkekuatan 25 PK dan 15 PK diamankan di Balai Desa/Kecamatan Ayah.

    Adapun yang terjadi kemarin, kata dia, adalah inisiatif warga yang menghendaki kejelasan obwis mangrove Ayah. Menurutnya, keberadaan mangrove sebagai obyek wisata belum memiliki legalitas. Oleh sebab itu, sembari menunggu legaltas itu, mereka meminta pihak pengelola menghentikan aktivitasnya. Apalagi, kawasan itu berada di wilayah Desa/Kecamatan Ayah sehingga wajar bila mereka berkehendak mengelola kawasan tersebut yang akan dituangkan dalam bentu Peraturan Desa (Perdes).

    Terpisah, pembina KPL sekaligus Ketua Tagana Kebumen, Sukamsi telah mendapat informasi mengenai penyitaan bahkan penyanderaan perahu di obwis Mangrove Ayah. Senada dengan  Agus Saptanudin, pihaknya tak akan memperuncing persoalan itu dan lebih mengedepankan dialog. "Persoalan ini merupakan dinamika di lapangan dan harus disikapi dengan kepala dingin," katanya yang saat dihubungi tengah berada di Semarang.(cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top