• Berita Terkini

    Tuesday, August 9, 2016

    Seni Kethopyang, Wayang Kreatif Asli Kebumen

    istimewa
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Seni Kethopyang, seni pertunjukan rakyat yang sempat mati suri cukup lama, kini mulai bangkit lagi. Kesenian tradisional yang lahir dan berkembang di sekitar Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah,  itu kembali dihidupkan oleh salah satu pendirinya. Bambang Budiono membangkitkanya kembali setelah mendapat dukungan dari Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen.    

    Seni Kethopyang merupakan kesenian gabungan dari kethoprak dan wayang, atau disingkat Kethopyang.  Seni Ketopyang ini merupakan kesenian yang membawa cerita ketoprak, namun ditampilkan dengan wayang. Berbeda dengan wayang pada umumnya yang membawa cerita Mahabharata atau Ramayana, kethopyang ceritanya diambil dari cerita Babad atau Kethoprak.

    "Tokoh-tokohnya ya tokoh ketoprak seperti Anglingdarma, Minakjinggo, Damarwulan dan lain-lain yang kita buatkan wayangnya dan ditampilkan seperti wayang," ujar Bambang Budiono, salah satu penggagas Kethopyang.

    Kethopyang ini bisa dipentaskan siang hari maupun malam hari dengan diiringi gamelan lengkap slendro dan pelog. Serta dilengkapi dengan kentongan, khas kethoprak. Kesenian ini dimainkan oleh seorang dalang. Dengan tema cerita yang mirip dengan tema cerita ketoprak. Bentuk wayang seperti bentuk Ketoprak. Lama pementasannya bervariasi menurut kebutuhannya.

    Kesenian yang tumbuh di era 1980-an itu digagas oleh lima bersaudara, yaitu Ki Djoko Aman Sardjono Tentrem Yuwono, Ki Putut Yudandon Wacana Rahayu (Alm), Ki Wahyuning Hartana, Ki Bambang Budiono, dan Ki Damai Agus Riyanto. Namun sayang, sejak Ki Putut Yudandon Wacana Rahayu (Alm) meninggal, kesenian ini kurang mendapat perhatian.

    "Semua penggagasnya itu merupakan keluarga besar Ki Cermo Carita (Alm), dalang dari Jatijajar," tutur pria pensiunan Kasi Trantib Kecamatan Rowokele ini.

    Semasa jayanya, kelimanya memiliki peran masing-masing saat pementasan Kethopyang. Seperti Ki Putut Yudandon Wacana Rahayu (Alm) bertindak sebagai dalang, Ki Djoko Aman Sardjono Tentrem Yuwono dan Ki Wahyuning Hartana, bertindak sebagai dubbing vokal. Selanjutnya, Ki Damai Agus Riyanto, sebagai penata gending. Sedangkan Ki Bambang Budiono, sebagai pemegang kenthongan.

    Saat ini, grup Kethopyang yang diberi nama Arista Budaya itu mulai dibangkitkan kembali oleh Bambang Budiono. "Dulu cerita-cerita yang pernah kita angkat seperti legenda Raden Kamandaka, karena kita tinggal di sekitar Goa Jatijajar. Kita ingin mengembalikan kesenian ini agar dapat eksis kembali," ungkapnya.

    Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo, mengatakan kesenian tradisional Kethopyang sangat layak untuk dihidupkan kembali. Ia sangat mengapresiasi Bambang Budiono yang berupaya kembali menghidupkan kesenian tersebut.  Pekik berpendapat seni tradisi di tengah hegemoni budaya massa memerlukan idealisme berkesenian yang konstrukstif-prospektif.

    Menurutnya, seni tradisi sudah seharusnya mencari posisi strategis atau reposisi kultural yang merepresentasikan dirinya sebagai modal budaya. Oleh karena itu, ekspresi artistik dalam seni tradisi harus direkonstruksi secara kreatif. Namun tidak hilang dari esensi. "Tatanan konsep inilah yang merepresentasikan karya adiluhung penuh simbol dan makna dalam kemegahan artistik," ujarnya.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top