• Berita Terkini

    Tuesday, August 23, 2016

    Dolalak dan Kentongan Meriahkan Pitulasan di Jatimulyo

    KEBUMEN(kebumenekspres.com)-Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk memperingati HUT RI, mulai dari lomba-lomba hingga melakukan tirakat dan ziarah. Bagi warga RT 3 RW 6 Desa Jatimulyo Kecamatan Alian, memperingati HUT RI dilakukan dengan nguri-uri seni dan budaya.

    Tahun 2015 lalu, perayaan HUT RI dilaksanakan dengan pertunjukan kuda lumping yang merupakan kesenian khas dari Kebumen. Sedangkan tahun 2016 ini dilaksanakan dengan menggelar Dolalak yang merupakan kesenian khas Purworejo. Selain itu disajikan pula Kentongan kesenian khas dari Kabupaten Banyumas.

    Dolalak yang menampilkan para penari muda itupun menjadi hiburan yang sangat meriah bagi masyarakat. Para penari muda belasan dengan lemah gemulai menari mengikuti irama Gending Jawa. Seperti halnya kuda lumping, pemain Dolalak juga dirasuki mahluk astral. Pemain yang sudah dirasuki, akan lebih piawai dan sangat profesional saat membawakan tarian.

    Salah satu tokoh masyarakat setempat Tubari SPd MPd (50) mengatakan, banyak sekali kegiatan yang dilaksanakan oleh warga RT 3 RW 6 Desa Jatimulyo, mulai dari lomba, kerja bakti, tirakatan hingga puncaknya adalah pagelaran seni. Setiap tahun perayaan HUT RI dilaksanakan dengan menampilkan kesenian daerah. Hal itu dikandung maksud untuk nguri-uri budaya. “Saya berharap generasi saat ini akan menyukai kesenian daerah, daripada budaya dari bangsa lain,” tuturnya disela-sela pegelaran seni, Minggu (21/8).


    Tirakatan lanjutnya, dilaksakan dengan menggelar doa bersama dan tumpengan. Doa untuk para pahlawan merupakan bentuk rasa terima kasih. Dengan memanjatkan doa maka generasi saat ini diharapkan mampu meneladani perjuangan para pahlawan. “Kita berkewajiban mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif,” terangnya yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Gombong.

    Ketua panitia pelaksana Bambang Sugito SPd mengatakan, perayaan HUT kemerdekaan tidak hanya menjadi ajang hura-hura, manakala dilakukan dengan baik. Tontonan dapat menjadi tuntunan jika dikemas dengan positif. “Semua ini dilakukan secara swadaya oleh masyarakat,” terangnya.


    Hal senada juga disampaikan oleh Ismantoro (55) salah satu tokoh masyarakat lainnya. Budaya Jawa mempunyai nilai-nilai luhur yang selaras dengan adat istiadat bangsa Indonesia. Budaya Jawa buka semata-mata tontonan, namun juga mengandung makna yang dalam. Beberapa lagu dalam kesenian dolalak, mempunyai arti dan nilai filosofis yang tinggi. “Maka sudah sepatutnya seni dan budaya itu diuri-uri dan dilestarikan,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top