• Berita Terkini

    Tuesday, August 9, 2016

    Ajaran Kiai Syawal soal Marifat Dinilai Berbahaya

    Dr Imam Satibi SAg MPdI/IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Ajaran bertapa 40 hari 40 malam untuk mendapatkan ilmu makrifat yang disampaikan oleh Kyai Hasanudin atau Kyai Syawal memicu kontroversi. Sejumlah pihak menilai, ajaran itu sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan lantaran tidak ada tuntunannya dalam Al Quran dan Al Hadists. Bahkan, ajaran itu bisa membahayakan.


    Seperti diberitakan, Abdul Ghofur (32) warga Desa Logandu Kecamatan Karanggayam meninggal setelah melakoni ajaran gurunya, Kyai Hasanudin atau Kyai Syawal bertapa 40 hari 40 malam. Ritual itu sendiri konon dalam rangka untuk mencapai ilmu marifat.

    Rektor IANU Kebumen Dr Imam Satibi SAg MPdI mengatakan, aturan-aturan umat muslim semuanya sudah ada dalih dan hukum syariat pada Al Quran dan Al Hadist. Maka dari itu semua hal yang tidak ada tuntunannya secara syariat sebaiknya tidak dilaksanakan. Dalam syariat yang disebut dengan puasa adalah menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit hingga terbenamnya matahari. Maka dari itu puasa ngebleng sehari semalam tidak ada tuntunannya dalam syariat.

    “Kalau sehari semalam saja tidak ada tuntunannya apalagi 40 hari 40 malam. Praktek riyadhoh seperti itu dapat membahayakan tubuh,” tuturnya kepada Ekspres, Selasa (9/8/2016).

    Untuk mencapai makrifat lanjutnya, manusia harus melakukanya secara bertahap mulai dari menjalani syariat, thoriqoh, hakekat baru mencapai makrifat. Makrifat menurut Imam Satibi adalah menjalani Islam secara kaffah (keseluruhan/sempurna). “Kalau itu merupakan pengalamannya sendiri maka tidak apa-apa, tapi kalau itu sudah dimasukan sebagai ajaran maka dapat berbahaya,” paparnya.

    Saat disinggung mengenai sufistik, Imam Satibi menjelaskan sufisme merupakan ajaran tasawuf untuk mensucikan jiwa dan menjernihkan akal. Tasawuf merupakan ilmu hati, sehingga saat melaksakan syariat manusia tidak merasa hambar. Hal itu dilaksanakan dengan cara thoriqoh. Sebagai panutan umat Islam Rosululloh SAW sendiri tidak pernah melaksanakan tapa, tidak makan minum selama 40 hari 40 malam. “Sufisme atau tasawuf ditempuh dengan cara melaksanakan thoriqoh,” paparnya.

    Menurut Imam Satibi kematian Abdul Ghofur bukan disebabkan oleh “Ninggal Raga” atau “Pecat Ruh”. Kematian itu disebabkan oleh sunatulloh (kausalitas) yakni efek daripada tidak makan minum selama 40 hari 40 malam yang mengakibatkan tubuh menjadi lemah dan berujung pada kematian. “Saya kira tidak demikian, dia meninggal karena tubuhnya sudah sangat lemah akibat efek dari tapa yang dijalani, Wallahu a'lam,” paparnya.

    Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu tokoh agama Desa Jatimulyo Kecamatan Alian Kyai Saebani. Untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT manusia memang memerlukan Khalwat/Uzlah/Menyepi. Nabi juga menyepi di Gua Hira, namun bukan berarti tidak makan dan tidak minum selama itu. “Sebatas pengetahuan saya, saya belum pernah menemukan dasar atau dalil yang mengatakan puasa selama 40 hari 40 malam. Bahkan di kitab-kitab sufi sekalipun tidak dijelaskan tentang hal itu. Kalau mengurangi makan iya, sebagai bentuk riyadhoh namun bukan bearti sama sekali tidak makan dan minum selama itu,” paparnya.

    Sementara itu Kyai Hasanudin mengatakan, ilmu makrifat tidak bisa untuk mujadalah (diperdebatkan). Ilmu ini tidak untuk dibicarakan, namun untuk dipelajari dan dipraktekkan secara langsung. Menanyakan tentang ilmu makrifat tidak bisa kepada ulama ahli syareat. “Ulama Syariat pasti tidak paham dengan makrifat. Kalau konfirmasinya kepada ulama syariat ya pasti tidak nyambung. Karena dia sendiri tidak paham akan makrifat, maka saat dikonfirmasi pasti akan mendatangkan persepsi yang lain. Dan persepsi dapat menjadi awal dari pintu kesalahan. Sementara itu kesalahan merupakan penyebab dosa. Jangan bahas ilmu makrifat bisa jadi terjebak kedalam dosa,” terangnya.

    Kyai Hasanudin yang menyatakan dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad ke 61 ini pun sedikit menjelaskan, kalau makrifat itu merupakan ilmu ruh, sedangkan syariat itu merupakan ilmu otak. Maka dari itu, menganalisa ilmu ruh menggunakan otak jelas tidak mungkin dapat dilakukan. Maka dari jangan membahas hal-hal makrifat. “Tidak mungkin ulama syariat itu nyandak. Kecuali kalau kamu bertemu dengan ulama atau kyai yang benar-benar paham makrifat,” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top