• Berita Terkini

    Senin, 25 Juli 2016

    Nasib Perajin Gula Jawa Tak Semanis Rasanya

    SUDARNOAHMAD/EKSPRES
    40 Tahun Menderes, Sarikin Tak Mampu Sekolahkan Anaknya

    Siapa yang tidak mengenal gula kelapa yang banyak dihasilkan oleh petani dengan cara mengambil nira (orang Buayan menyebut sajeng) atau air dari bunga kelapa yang dilakukan oleh penderas, yang kemudian diolah menjadi gula jawa. Manisnya rasa gula jawa, namun ternyata tak membuat manis nasib para penderesnya. Seperti yang dialami Ratim, setelah menjadi penderes hampir 40 tahun dia tetap tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga SMA.

    ----------------------
    SUdarno Ahmad, Buayan
    -----------------------

    KEGIATAN yang dilakukan petani penderas ini, berbeda dengan petani lainnya, karena mereka harus memanjat pohon kelapa yang umumnya berketinggian 15 meter untuk dapat mengambil air dari bunga kelapa. Dan yang lebih menakjubkan lagi, para penderas ini setiap hari harus memanjat lebih dari 20 pohon untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
       
    Namun, upaya dan kerja kerasnya untuk mengolah air bunga kelapa menjadi gula yang ternyata memiliki manfaat yang banyak bagi kesehatan, ternyata tidak sebanding dengan pendapatan yang mereka terima.
       
    Para petani penderes di Kabupaten Kebumen sebagian besar merupakan warga miskin. Seperti, Sarikin (59) Warga RT 02 RW 03 Desa Karangbolong Kecamatan Buayan. Bapak dari delapan anak itu menderes sejak usianya masih 15 tahun. Dia terpaksa melakukan itu karena kondisi ekonomi orangtuanya yang serba kekurangan. Bahkan, dia hanya mengenyam pendidikan hingga kelas tiga sekolah dasar.
       
    Setelah menderes selama 40 tahun, nasibnya juga tak jauh berbeda dengan nasib almarhum kedua orangtuanya. Lebih miris lagi, dia tidak mampu menyekolahkan kedelapan anaknya hingga jenjang SMA. Hanya tiga anak yang meluluskan pendidikan hingga SMP, kelima anak lainnya hanya lulus SD. "Lha wong saya tidak punya biaya, ya gimana lagi," tutur pria yang telah dikaruniai tujuh cucu, sambil menghirup klembak menyan.
       
    Seorang penderes menghabiskan sedikitnya tiga hingga delapan jam untuk memanjat 20-40 pohon kelapa. Mengambil pongkor tempat nira, memotong manggar (bunga kelapa), dan mengikat pongkor pada manggar. Pekerjaan ini tidak mengenal hari libur karena terlambat beberapa jam saja, nira tidak lagi bisa diolah menjadi gula. Jika dipaksakan dimasak, nira masam ini hanya akan menjadi gula gemblung (rusak). Gula gemblung adalah sebutan larutan kental nira yang tidak bisa kering dan dicetak menjadi gula. Gula gemblung adalah musibah bagi para penderes karena harganya sangat rendah.
       
    Untuk mendapatkan gula berkualitas bagus, seorang penderes harus segera memasak nira yang disadapnya. Untuk membuat air nira menjadi gula jawa juga dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Setidaknya dibutuhkan waktu tiga hingga lima jam untuk memasak satu kenceng (wajan tempat nira) nira hingga menjadi gula.
       
    Dari hasil jerih payahnya, dalam satu minggu dia mampu mendapatkan hasil Rp 200 - 350 ribu. Namun, dari hasil itu dia rata-rata membawa uang ke rumah antara Rp 200 - 250 ribu. Ini terjadi karena dia terjerat hutang kepada pedagang gula. "Saya dulu waktu mau mbeneri rumah, utang sama juragan gula. Bayarnya ya dicicil setiap saya jual gula," kata dia.
       
    Tak hanya Sarikin, para penderas lain juga miskin karena terbelit utang sepanjang hidupnya. Terbelit perdagangan gula dengan sistem ijon yang mirip dengan sistem renternir yang diperankan oleh para tengkulak gula.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top