• Berita Terkini

    Monday, June 13, 2016

    Rob Belum Surut, 278 Pengungsi Masih Bertahan di Posko

    MUHAMMAD HADIYAN
    PEKALONGAN  - Rob yang merendam empat wilayah kecamatan pesisir di Kabupaten Pekalongan sudah mulai surut. Diantaranya di kecamatan Wonokerto, Siwalan dan Wiradesa. Sedangkan, di Kecamatan Tirto, meskipun rob menurun, namun genangannya masih mengisi sebagian pemukiman warga. Sekitar 278 warga di kecamatan tersebut juga masih bertahan di pengungsian.

    Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sujatmiko, mengatakan, masa tanggap darurat rob di Kota Santri yang sebelumnya berakhir tanggal 9 Mei lalu, telah diperpanjang pemerintah setempat hingga 14 hari. Hal ini karena melihat kondisi rob pada dua hari terakhir yang terkadang masih menunjukkan peningkatan ketinggian ketika malam hari. "Dengan berakhirnya tanggal 9 Juni, kami melaporkan kepada pak Bupati, beliau menghendaki untuk diperpanjang 14 hari, karena melihat genangan rob di Tirto yang masih tinggi. Meskipun sudah mulai surut," kata Bambang.

    Dikatakan, untuk penanganan darurat banjir rob, pembuatan tanggul-tanggul darurat di sepanjang aliran Sungai Meduri mulai dikerjakan. Tanggul-tanggul yang rusak akibat erosi maupun abrasi itu diperkirakan sebagai pintu masuknya air pasang laut ke empat desa, yakni Mulyorejo, Tegaldowo, Jeruksari, dan Karangjompo. "Setelah dibuat tanggul darurat, nanti akan disedot airnya," katanya.


    Sementara, Kepala Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Mubarok, Minggu (12/6) sore, mengatakan, ketinggian air rob kemarin sore kembali meninggi. Di RT 6, kata dia, ketinggian banjir rob sudah mencapai 1 meter, sedangkan di jalan-jalan utama desa terendam banjir rob dengan ketinggian 30 centimeter. "Sore ini airnya kembali tinggi lagi. Di beberapa titik sudah sampai 1 meter. Biasanya, rob mulai datang sore hari seperti ini hingga malam hari sekitar pukul 20.00 WIB," terang dia.

    Diungkapkan, banjir rob sudah tiga bulan lebih merendam wilayah pesisir, dengan kondisi paling parah sekitar 1 bulan terakhir ini. Sejumlah warga masih tetap bertahan di posko pengungsian yang ada, karena air di pemukiman belum surut. "Untuk buka dan sahur, ada dropping dari BPBD Kabupaten Pekalongan. Kepedulian masyarakat juga berdatangan, seperti dari Kepolisian dan ormas-ormas yang membantu korban banjir," terang dia.

    Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan mulai membuat tanggul-tanggul darurat di sepanjang aliran Sungai Meduri yang diperkirakan sebagai titik masuknya air pasang laut ke pemukiman warga. Dia mengharapkan, pembuatan tanggul-tanggul darurat yang diperkirakan akan selesai dalam waktu 17 hari kedepan itu bisa tepat waktu. Setelah itu, dilanjutkan penyedotan air, sehingga saat Lebaran, banjir yang merendam wilayah pesisir bisa surut.

    "Pembuatan tanggul dilakukan secara manual. Karung-karung diisi tanah untuk tanggul darurat. Salah satu kendalanya, untuk membawa material karung berisi tanah ini masih dilakukan manual menggunakan alat songkro. Padahal, jarak tempuhnya hingga ke muara sangat jauh, ada yang sekitar 1 kilometer dengan medan sulit. Ini bisa memakan waktu lebih lama," tandasnya. (yan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top