• Berita Terkini

    Thursday, June 9, 2016

    BMKG Prediksi Gelombang Pasang Mulai Surut Hari Ini

    CILACAP-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap memprediksi ketinggian gelombang berangsur-angsur mulai berkurang.

    Kepala Kelompok Teknisi pada Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, puncak tinggi gelombang terjadi pada Rabu (8/6/20
    16) lalu. Dimana ketinggian gelombang mencapai 2,1 meter. "Tadi sekitar pukul 11.00 WIB ketinggian pasang maksimum mencapai 2 meter. Untuk kemarin puncak ketinggian pasang terjadi pada Pukul 19.00 WIB,"terangnya kepada Radarmas.

    Menurut analisa BMKG, kenaikan tinggi muka air laut atau banjir rob di beberapa lokasi di Pantai Selatan Jawa yang terjadi pada tanggal 7 dan 9 Juni 2016, diakibatkan oleh pengaruh astronomi terjadinya bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide ). Dimana mengakibatkan naiknya tinggi muka laut. "Kondisi ini merupakan siklus rutin bulanan yang normal terjadi,"tuturnya.

    Kondisi ini kata Teguh merupakan ulangan dari kejadian rob yang sama di Tahun 2014 silam. Saat itu ketinggian air yang rob hampir sama. Akan tetapi di tahun 2015, tidak terjadi peristiwa rob hingga ke pemukiman warga. "Ini juga disebabkan adanya tekanan tinggi dari barat Australia, dimana gelombang yang merambat sampai ke pesisir selatan Indonesia,"jelas dia.

    Dari tabel yang ada, ketinggian gelombang di laut mencapai 4 hingga 6 meter. Kemudian selang 1 hingga tiga jam, gelombang ini membawa air menuju ke daratan. "Karena ketinggian tanggul lebih rendah, membuat air lebih lama untuk keluar,"katanya.

    Dikatakannya, terjadinya rob tidak terlalu dipengaruhi oleh besarnya angin. Sebab menurut data kecepatan angin hanya sekitar 20 knots di samudera, dan di perairan maksimal hanya 30 knots saja. "Kita sebenarnya sudah memprediksi dari tanggal 6 hingga 9 dengan memberikan peringatan dini sebelumnya,"imbuhnya.

    Lanjut dia, gelombang ini diprediksi akan memberikan dampak di sepanjang perairan selatan Pulau Jawa. Dari Yogyakarta hingga ke Cilacap, bahkan disaat yang sama di Pantai Jetis, Kabupaten Purworejo, hingga Pantai Menganti, Kabupaten Kebumen juga mengalami hal yang sama. "Siklus ini tidak terprediksi bisa 1, 2, hingga 4 tahun terjadi,"pungkasnya.(rez)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top