• Berita Terkini

    Saturday, May 7, 2016

    "Kontes Ambeng", Tradisi Unik Rajaban Desa Wadasmalang

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Warga Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung memiliki tradisi unik setiap memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Tradis unik ini rutin digelar setiap tahun sekali. Keunikan tersebut terlihat pada tradisi menyediakan ambeng saat memperingati Isra Miraj.

    Ambeng adalah semacam nasi beserta lauk pauknya lengkap dengan buah, dalam satu paket besar. Dalam tradisi warga pegunungan itu, setiap warga membawa keranjang bingkisan yang nilainya beragam, mulai dari Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah.

    Keranjang bingkisan berisi nasi sayur lengkap dengan lauk pauk, aneka jajanan dan minuman, buah-buahan, serta kebutuhan sehari-hari. Dan syarat wajib yang tidak boleh ketinggalan adalah ingkung ayam. Ayamnya pun harus ayam jantan yang jumlahnya bisa lebih dari satu ekor. "Kalau tahun lalu ada yang menghias uang diatas keranjang dan kambing, tapi sekarang nggak ada," kata Darsono, warga Dusun Karangjambu RT 4 RW 3 Desa Wadasmalang.

    Dalam wadah bakul yang telah dimodifikasi dengan tambahan anyaman bambu, satu ambeng ada yang sampai setinggi dua meter. Tidak mengherankan jika nilai satu keranjang ada yang mencapai Rp 5 juta. Seolah ada kebanggaan tersendiri dan makin disorot masyarakat sekitar, jika susunan dan komposisi makanan dalam paket ambeng tersebut makin heboh. Misalkan saja ditentukan oleh banyaknya jumlah isian. Hanya saja ada konsekuensi harus mengembalikan bagi si penerima. Cara mengantar kepada si penerima pun cukup unik, biasanya dilakukan dengan dipikul.

    "Kalau bahasa sini namanya besanan. Maksudnya, yang menerima nantinya berkewajiban mengembalikan pada Rajaban tahun depan, dan biasanya mereka mengembalikannya jumlahnya besar dari yang diterima sekarang," terang Prayitno (45), Warga lainnya.

    Prayitno mengatakan, tradisi rajaban seperti itu sudah berlangsung secara turun temurun. Keranjang dengan segala isinya merupakan pengejawantahan sedekah. Selain itu, untuk mempererat tali silatuhami antarwarga, baik warga Desa Wadasmalang maupun dengan warga desa disekitarnya. "Sebenernya itu hanya sebagai bebungah," ujarnya.

    Dia menambahkan, tradisi ini sebagai wujud penghormatan kepada tamu yang diundang. Dalam tradisi itu, satu keluarga membuat bingkisan sesuai jumlah bingkisan yang pernah diterima. Jika pernah menerima tiga keranjang, maka akan membuat tiga keranjang untuk diberikan kepada orang yang pernah memberi. "Selain yang besar-besar itu, warga juga membuat keranjang yang kecil-kecil untuk ibu-ibu atau anak-anak," pumgkasnya.(ori)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top