• Berita Terkini

    Tuesday, May 31, 2016

    Bangga Sekaligus Sedih Wakili Jateng

    Tri Ngudi Prasetyo /dokpribadi
    KEBUMEN tak pernah sepi melahirkan prestasi di bidang olah raga. Tri Ngudi Prasetyo menjadi salah satu yang bisa disebut. Pria kelahiran Desa Wonoharjo Kecamatan Rowokele 32 tahun lalu itu adalah satu-satunya wasit futsal berlevel nasional yang dimiliki Kebumen bahkan Jawa Tengah.
             
                Wajahnya kerap menghiasi salah satu stasiun televisi nasional yang menayangkan Blend Futsal Profesional, sebuah liga futsal profesional yang tengah digulirkan saat ini.

                Lahir di desa yang berada di kawasan pegunungan seperti Wonoharjo, Tri Ngudi mengaku sudah mencintai dunia olah raga sejak kecil. Namun, melihat persaingan ketat saat duduk di bangku kuliah Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Tri Ngudi akhirnya memilih banting setir. Wasit pun menjadi pilihannya.
             
                Pilihannya terbukti tepat. Dari tiga wasit futsal dari Jawa Tengah yang ada, Tri Ngudi menjadi satu-satunya wasit yang lolos tes dan mendapat tugas untuk memimpin pertandingan futsal di tingkat nasional. Itu artinya, untuk saat ini, pria yang saat ini mengajar di SMAN 2 Kebumen itu menjadi satu-satunya wasit dari Jawa Tengah yang ditugaskan di level nasional.
             
                Menjadi wasit nasional, Tri Ngudi mengaku banyak mengalami suka duka. "Sukanya saya mendapat banyak pengalaman dan mendapat banyak relasi. Selain itu bisa jalan-jalan gratis. Dukanya kalau sedang tidak dalam performa (kondisi) terbaik sehingga saat memimpin pertandingan tidak berjalan maksimal," ujar suami Irvina Dian Ayuningtyas (25) itu.

                Namun di balik kebanggaan sebagai satu-satunya wasit dari Jawa Tengah, terselip perasaan sedih. "Bangga karena bisa mendapatkan membawa nama Jawa Tengah di tingkat nasional. Namun sedih karena berarti Jawa Tengah tertinggal dengan daerah lain dalam hal kualitas perangkat pertandingan. Daerah lain seperti Jawa Barat dan DKI bisa meloloskan lebih dari 10 wasit," ujar pria yang juga mengantongi lisensi C1 wasit nasional sepak bola ini.
             
               Di tengah kesibukannya mengajar dan sebagai wasit, Tri Ngudi juga serius berupaya mengembangkan cabang futsal di Kebumen. Selain telah mengantarkan anak didiknya pada beberapa kejuaraan futsal nasional, Tri Ngudi bersama rekan-rekannya mendirikan Walet Muda Futsal Akademi (WMFA) untuk menampung dan membina talenta-talenta muda di cabang futsal.
             
                Selain itu, Tri Ngudi menggalang dukungan dengan pelbagai pihak demi mengembangkan olah raga futsal. Hasilnya, liga futsal resmi pertama di Kota Beriman bertajuk Kebumen Futsal League (KFL) 2016 digulirkan. "Saya sangat berterima kasih kepada beliau Bapak HM Tursino dan seluruh pihak yang mendukung penuh KFL 2016," ujarnya. HM Tursino, atau biasa disapa Senno, adalah tokoh muda yang selama ini dikenal peduli dengan olah raga.

    Tri Ngudi berharap suatu saat ada pemain, wasit, pelatih atau SDM lainnya dari Kebumen yang berkiprah di tingkat nasional. Selain itu, Tri Ngudi mengharapkan pemerintah atau pihak swasta yang peduli olah raga dapat membangun GOR yang representatif untuk event berskala nasional di Kota Beriman. "Dengan adanya GOR representatif saya berharap perkembangan dunia olah raga pada umumnya dan futsal pada khususnya akan semakin berprestasi baik di tingkat provinsi maupun nasional," ujarnya.

    Terlepas apakah mimpi itu terwujud atau tidak, kiprah Tri Ngudi setidaknya telah memberi inspirasi bagi anak muda Kebumen bahwa dunia olah raga layak ditekuni dan pantas diperjuangkan. "Jangan takut dengan duniamu. Jika olah raga adalah pilihan, maka perjuangkanlah dengan penuh semangat, kesabaran dan keikhlasan. Maka yakinlah apa yang kita pilih akan memberikan rejeki dan berkah," pesannya.(cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top