• Berita Terkini

    Monday, April 18, 2016

    Pemberhentian Sekdes Jatisari Disorot

    KEBUMEN – Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kabupaten Kebumen menyoroti adanya manipulasi dokumen yang dilakukan Pemkab terkait pemberhentian Sekretaris Desa (Sekdes) Jatisari Kecamatan Kebumen, Mahrup.

    Untuk diketahui, pemberhentian terhadap Mahrup sebagai Sekdes Jatisari itu terbongkar adanya manipulasi dokumen yang mengoyak jiwa sanubari masyarakat di kabupaten berslogan Beriman ini.

    Pasalnya, Pemkab dalam penjelasannya melalui surat Nomor 141/53 tanggal 2 Februari 2012 justru mencantumkan salinan amar putusan Pengadilan Negeri (PN) Kebumen Nomor 13/Pdt.G/2004/PN.Kbm, dan ternyata diketahui merupakan perkara perceraian yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemberhentian Sekdes Jatisari.

    Koordinator Desa pada Formasi Bintang Bawono mengaku prihatin dengan apa yang terjadi pada  Mahrup. Apalagi, dalam hal ini, Pemkab melalui Kasubag Pemdes dan Pertanahan pada Bagian Tapem Setda Eko Purwanto mengaku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengembalikan Mahrup sebagai Sekdes Jatisari.

    Bagi Bintang Bawono, perlakuan terhadap Mahrup bisa dijadikan pelajaran oleh para pejabat Pemkab dengan cara melakukan revolusi mental. Sebagaimana dicanangkan kembali oleh pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla.

    Dikatakannya, revolusi mental di Kebumen diawali dengan komitmen ulama dan umara pada 17 Mei 2012 saat Bupati dijabat Buyar Winarso. Komitmen tersebut berisi tentang kesanggupan segenap komponen masyarakat menyumbangkan jiwa dan raga untuk mewujudkan Kebumen Beriman.

    "Dengan adanya komitmen tersebut, maka sudah selayaknya seluruh elemen masyarakat Kebumen menempatkan kata Beriman dalam slogan daerah itu tidak hanya sebatas akronim Bersih, Indah, Manfaat, Aman, dan Nyaman atau hanya membicarakan seputar Kebersihan, Ketertiban, dan Keindahan (K3). Namun merupakan kata yang sarat makna. Sehingga menjadi ruh dalam sendi-sendi kehidupan masyarakatnya," katanya kemarin (18/4/2016).

    Dan selayaknya pula, kata Beriman yang mempunyai filosofi sarat dengan nilai-nilai religiousitas (mental spiritual) itu dijadikan spirit untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan dari aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (Ipoleksosbudhankam). Di samping itu dari aspek birokrasi, legislatif, dan hukum.

    Oleh karena itu, Bupati Yahya Fuad yang menggunakan tagline "Terusna Aku Bae" harus mengimplementasikan komitmen bersama ulama dan umara yang ditandatangani oleh bupati, Forkominda serta segenap komponen masyarakat itu. "Kami berharap pembangunan ke depan dan selanjutnya selalu partisipatif dan mengedepankan semangat kebersamaan membangun," imbuhnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top