• Berita Terkini

    Thursday, April 14, 2016

    Ebeg Ngisor Gayam Kelurahan Wonokriyo Gombong Kembali Digeliatkan

    IMAM/EKSPRES
    Berharap Anak-anak Mengembalikan "Gaung" Mbah Singa
    SETIAP wilayah punya cerita. Sama seperti halnya Kelurahan Wonoriyo Gombong ini. Kampung itu ternyata tak sekedar "terkenal" gara-gara pernah menjadi kawasan prostitusi di Kebumen. Ada cerita lain, yakni soal kesenian ebeg yang membuat wilayah tersebut tersohor di masa lalu. Sayangnya, cerita indah itu turut hilang ditelan jaman.

    ---------------------------
    IMAM, Gombong
    ---------------------------
    SUDAH tiga bulan terakhir,  suasana Minggu sore di kawasan RT 3 RW 2 Kelurahan Wonokriyo Gombong terlihat semarak dengan alunan musik gamelan. Musik rancak itu mengiringi sekelompok anak dan remaja usia SD dan SMP membawakan kesenian ebeg. Suara gamelan itupun beradu dengan suara bising kendaraan yang memang lebih akrab didengar warga di kawasan yang menjadi salah satu pusat kota Gombong tersebut. Kendati dengan keterbasan, anak dan remaja itu tetap membawakan ebeg dengan kuda lumping, barongan bahkan ada juga ‘si penthul yang kocak”.

    Sugi Amanto (45), tokoh kesenian setempat mengatakan, aktivita para remaja tersebut menjadi harapan baginya akan kejayaan seni ebeg Kelurahan Wonokriyo. Puluhan tahun silam, wilayah tersebut memiliki seniman ebeg yang "gamben" (tangguh) pada diri Mbah Singa. Setiap kali Mbah Singa mentas bersama paguyuban kesenian ebeg Rukun Agawe Santoso (RAS), orang-orang akan berdatangan dari berbagai wilayah.  “Karena tempat pentas berada di bawah pohon gayam, maka sempat pula muncul julukan Ebeg Ngisor Gayam,” kenang pria yang akrab disapa Sugi itu.

    Namun itu menjadi cerita lalu. Seiring perkembangan jaman, Mbah Singa bersama paguyubannya tersisih. Alhasil selama bertahun-tahun gamelan dan perangkat ebeg tersimpan dalam pondok kecil di Panembahan Nyi Roro Rubiah, yang terletak di tengah pemukiman. “Sejak tiga bulan yang lalu kami mencoba menghidupkan kembali kesenian ebeg yang merupakan warisan berharga dari leluhur kami. Meskipun dengan peralatan dan kemampuan minim, kami tetap bertekad untuk mewujudkannya,” papar Sugi.

    Ya, di pundak anak-anak itulah harapan melihat kesenian ebeg (kuda lumping) menggeliat kembali di Wonokriyo. Ebeg pada masanya sempat mengalami kejayaan dan menjadi maskot daerah Wonokriyo. Namun seiring berjalannya waktu, kesenian tersebut semakin dilupakan dan pelakunya pun kian berkurang.

    Salah satu tokoh muda stempat Shinta Auralia Winarno (30) mengungkapkan kegembiraannya atas menggeliatnya kembali kesenian ebeg di Wonokriyo. Apalagi, dukungan mengalir dari warga setempat.  Terbukti setiap kali latihan ada saja warga yang menyumbangkan minum dan sekedar camilan. “Bahkan kami baru saja mendapatkan sumbangan saron dan gong. Untuk ke depan kami masih mengusahakan diadakannya seragam,” jelas Shinta dengan bangga.

    Yang cukup menggembirakan lanjut Shinta, ternyata para penari ebeg tersebut justru didominasi oleh anak-anak. Diantaranya Rizki Ikhsan Hamid yang masih duduk di bangku MTs. Mereka berdua adalah  penarinya yang handal. “Menari ebeg memang mengasyikkan bahkan bisa dianggap permainan,” paparnya.

    Kegiatan nguri-uri budaya tersebut juga mendapat apresiasi dari salah satu pegiat seni dari Yogyakarta Mulyanto. Dia  optimis, jika ebeg ngisor gayam akan kembali menggeliat. Mengingat kegiatan itu sepenuhnya diinisiasi dan didukung oleh komunitas lokal. Apalagi adanya pelaku dari generasi muda. “Ini sangat memudahkan terjadinya proses regenerasi. Selain itu kesenian ebeg di wilayah Gombong juga memiliki ciri khas karena masih mempertahankan iringan klasik,” katanya.

    Pihaknya pun berharap akan banyak pihak yang peduli, agar bisa terwujud pentas ebeg reguler. Dengan demikian maka apresiasi masyarakat terhadap kesenian lokal akan semakin terbangun. Dengan begitu maka para pelakunya pun  akan semakin giat dalam berlatih,” ucapnya Mulyanto. (mam)


    Berita Terbaru :


    Scroll to Top