• Berita Terkini

    Saturday, April 16, 2016

    Break Water PPI Logending Butuh Rp 53 Miliar Lagi

    fuad/ekspres
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Meski sudah mulai beroperasi, namun Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending belum berfungsi secara maksimal. Pasalnya, masih ada sekitar 90,5 meter bangunan pemecah gelombang (break water) yang belum dibangun. Padahal keberadaan breakwater ini sangat vital guna menahan laju sedimentasi dari laut yang menjadi penyebab pendangkalan. Jika tak ada break water, pendangkalan bakal terus menerus terjadi. Imbasnya, PPI Logending terancam tak bisa dilabuhi kapal-kapal besar berbobot 10-30 gross ton (GT).

    "Kapal-kapal besar itu jelas tak bisa mendarat di PPI Logending karena pasti kandas akibat pendangkalan lumpur sedimentasi," ujar Kepala Bidang Perikanan Tangkap pada Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Kebumen, Moch Ashari APi, saat meninjau PPI Logending, Kamis (14/4/2016) bersama awak media.

    Ashari menambahkan, pembangunan "breakwater" ini sangat mendesak. Selain mencegah sedimentasi, juga untuk melindungi kapal nelayan dari hampasan gelombang, karena selama ini kapal milik nelayan kerap rusak akibat dibawa arus.

    Belum sempurnanya PPI Logending, lanjut Ashari, juga membuat 8 kapal berbobot 30 GT milik Kebumen sementara ini bersandar di PPI Cilacap. Padahal keberadaan kapal-kapal besar ini sebenarnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan transaksi penjualan ikan yang bisa menjadi sumber pemasukan pendapatan daerah sekaligus meningkatkan perekonomian warga setempat.

    Terkait sisa break water yang belum terbangun, Ashari memperkirakan masih butuh sekitar Rp 53 miliar lagi untuk merampungkannya. Disisi lain, Dinas Kelautan Kebumen juga membutuhkan anggaran rutin untuk pengerukan sedimentasi PPI Logending.

    Hanya saja pembangunan breakwater tidak bisa dilakukan sekaligus karena kendala kedalaman serta keterbatasan anggaran.
    "Tahun ini pemerintah pusat melalui APBN Perubahan hanya mengucurkan anggaran Rp 15 miliar untuk membangun breakwater," imbuhnya.

    Diakui Ashari, soal sumber anggaran juga menjadi kendala tersendiri. Sebab saat ini, pembangunan infrastruktur kelautan menjadi ranah Kementrian Pekerjaan Umum, bukan lagi Kementerian Kelautan dan Perikanan.

    "Celakanya, PU sepertinya lebih intens membangun jalan dan jembatan daripada infrastruktur kelautan. Jadi mohon maaf jika sampai saat ini PPI Logending belum bisa berfungsi secara optimal," kata Ashari sembari mengatakan jika PPI Logending sudah menghabiskan Rp 87 miliar sejak mulai dibangun tahun 2012  hingga tahun 2014.
    Pada kesempatan itu, Ashari memaparkan jika hasil tangkapan ikan laut di Kebumen mengalami fluktuatif setiap tahunnya. Pada 2015 kemarin, hasil tangkapan ikan laut tercatat 4.087 ton dengan nilai penjualan (raman) sebesar Rp Rp 78,952 miliar.

    Menurut dia, faktor cuaca sangat mempengaruhi hasil tangkapan ikan nelayan. Sebab, rata-rata nelayan di Kebumen masih menggunakan kapal pencari ikan berukuran kecil antara 1-5 gross ton (GT). Jangkauannya pun di jalur I atau maksimal hanya 6-7 mil dari garis pantai.

    Padahal, ikan-ikan besar dan bernilai mahal seperti tuna ada di perairan dalam yang lokasinya lebih dari 7 mil dari garis pantai.

    "Kalau lagi musim angin dan ombak besar, nelayan otomatis tidak bisa melaut karena terlalu beresiko dan membahayakan keselamatan nelayan," tandasnya.
    Terkait hal itu, Disnaktan terus berupaya melakukan modernisasi peralatan tangkap nelayan. Terutama untuk pengadaan kapal beserta alat navigasi. Selain itu, kemampuan dan pengetahuan nelayan juga terus ditingkatkan melalui pelatihan.
    "Kita bersyukur sudah memiliki SMK Kelautan yang bisa meningkatkan SDM nelayan di Kebumen," ucapnya.
    Dari data yang ia miliki, jumlah kapal nelayan mencapai 908 unit ukuran 1-5 GT.Untuk kapal ukuran 5-10 GT ada 4 unit dan ukuran 10-30 GT ada 8 unit, sedangkan jumlah nelayannya 8.137 orang. (has)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top