• Berita Terkini

    Saturday, April 30, 2016

    Berbagi Pengalaman dengan Ketum PB Perbakin Bambang Trihatmodjo

    NIKKO AUGLANDY/RASO
    Terinspirasi sang Bapak, Hobi Berburu Binatang Liar
    Bagi banyak orang hobi tidak memikirkan harga. Meski merogoh kocek dalam-dalam dan ke belahan dunia mana pun tidak peduli. Asalkan hobi tersalurkan dan yang penting puas. Seperti hobi Bambang Trihatmodjo di dunia menembak.

    -------------------------
    A. CHRISTIAN, Solo
    -------------------------
    EVENT lomba tembak di lapangan tembak Group 2 Kopassus Kandang Menjangan, Kartasura, Sukoharjo, kemarin (30/4) istimewa. Sebab dihadiri Bambang Trihatmodjo, yang merupakan putra ketiga mantan Presiden RI Soeharto. Pada kesempatan itu, dia pun berbagi pengalaman kepada Jawa Pos Radar Solo di dunia menembak.

    ”Sejak SD saya sudah berkenalan dengan dunia menembak. Apalagi almarhum bapak senang berburu, jadi saya suka diajak bapak ikut menembak. Saat itu bapak sering berburu belibis di Serang dan Ancol. Dulu Ancol itu masih rawa-rawa,” tutur pria kelahiran Solo, 23 Juli 1953, ini.

    Kegemaran menembak tumbuh berbarengan dengan usia. Beranjak remaja, dia kian sering ikut berburu bersama sang presiden. ”Ketika masih anak-anak, saya sering menggenggam revolver kaliber 22. Setelah remaja saya mulai menggunakan shoot gun. Sasarannya bukan burung yang tertidur lelap, atau hinggap di dahan, tapi bergerak,” paparnya.

    Bambang tidak puas dan berhenti kendati telah merebut gelar dalam perlombaan. Dia terus melanglang buana, berburu binatang-binatang liar dan buas di hutan rimba. ”Berburu out door lebih sulit. Ada tantangannya, ada kepuasan tersendiri. Apalagi kalau tepat mengenai sasaran yang disebut bulls eyes, puas rasanya,” kelakar istri Mayangsari, ini.

    Demi memuaskan batin itulah, Bambang bersedia mengeluarkan banyak dana untuk berkelana ke berbagai benua di Asia, Afrika, hingga Amerika. Mulai hutan rimba hingga kutub nan bersalju. Bahkan dia pernah berburu ke Aljazair, Afrika Selatan, Zimbabwe, Tanjania, Selandia Baru, dan Kanada.

    Dengan berbagai pengalamannya itu, tidak heran apabila Bambang dinobatkan sebagai ketua umum (ketum) Pengurus Besar (PB) Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin).
    Keterlibatannya di Perbakin tidak hanya semata-mata menyalurkan hobi, namun juga sebagai bentuk sumbangsih terhadap perkembangan olahraga menembak di Indonesia.
    Untuk itu dia sangat mengapresiasi keberadaan klub hobi menembak. Sebab keberadaan klub ini bisa membantu menghasilkan atlet-atlet menembak yang dapat mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Lebih-lebih bila dihubungkan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

    ”Masih ada waktu untuk menciptakan atlet-atlet berbakat yang dapat mengharumkan nama bangsa. Mudah-mudahan dunia menembak juga dapat menjadi salah satu cabang olahraga yang dapat melakukan hal itu dan menyumbang medali,” katanya.

    Hal ini cukup menjadi perhatian Bambang. Sebab Indonesia masih membutuhkan atlet berkualitas. Sementara, waktu untuk dapat menciptakan atlet yang berkualitas sangat bervariasi. Banyak faktornya, mulai dari sistem pelatihan, jam terbang, kualitas individu, juga sarana dan prasarana yang digunakan untuk berlatih.

    Tidak hanya dari skill menembak, atlet menembak yang profesional juga membutuhkan stamina tinggi. Setiap cabang olahraga membutuhkan stamina. Demikian juga dengan olahraga menembak. ”Selain itu, menembak juga melatih konsentrasi,” tandas pengusaha sukses di Indonesia ini.

    Untuk lapangan tembak, Perbakin telah menyediakan sarana latihan untuk tembak sasaran dan reaksi. Sementara untuk berburu, Perbakin menggunakan lapangan militer. ”Meski tidak menggunakan binatang sungguhan, tapi kita mencoba membuat sasaran moving plate berbentuk binatang. Dengan demikian, sensasinya bisa menyerupai ketika berburu di alam bebas,” tutur pehobi Harley Davidson ini.

    Saat menembak, bagi Bambang, sensasi menegangkan ketika jari menarik pelatuk. Penembak seperti dihadapkan dengan tantangan yang harus ditaklukan. Terutama di tembak reaksi. Selain tepat sasaran, juga dituntut menyelesaikan dalam waktu secepatnya. Di tembak reaksi juga terdapat beberapa stage, yang masing-masing memiliki tingkat kesulitan berbeda. (*/un)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top