• Berita Terkini

    Monday, April 18, 2016

    Awal Puasa Berpotensi Beda

    ILUSTRASI
    JAKARTA - Tahun lalu muncul prediksi, bahwa awal puasa (1 Ramadan) dan lebaran (1 Syawal) bakal kompak hingga 2024 nanti. Namun ternyata Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memperkirakan ada potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan 1437 H/2016 M.


    Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menuturkan secara garis besar ada tiga sistem atau kriteria penetapan kalender hijriyah. Seperti penetapan 1 Ramadan, 1 Syawal, 1 Dzulhijjah, dan bulan-bulan kalender hijriyah lainnya. Ketiga kriteria itu adalah Wujudul Hilal yang digunakan Muhammadiyah, Imkanul Rukyah (tinggi hilal minimal 2 derajat) Nahdlatul Ulama (NU), dan kriteria Hisab-Rukyah (tinggi hilal 4-6 derajat) acuan Persis (Persatuan Islam).


    Dari ketiga acuan itu, Thomas mengatakan NU dan Muhammadiyah bakal kompak mengawali puasa pada 6 Juni. Pasalnya tinggi hilal pada 5 Juni sudah memenuhi kriteria pemantauan (rukyah) hilal. "Namun dalam acuan Persis, tinggi hilal belum memenuhi kriteria," katanya di Jakarta kemarin. Sehingga ada potensi Persis mengawali puasa 7 Juni.


    Menurut Thomas PP Muhammadiyah melalui sistem hisab dan kriteria Wujudul Hilal-nya, sudah memastikan 1 Ramadan jatuh pada 6 juni dan 1 Syawal pada 6 Juli. Sementara NU seperti biasa masih menunggu rukyah dan sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag).


    Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Machasin mengatakan sidang isbat 1 Ramadan digelar 5 Juni. Sementara sidang isbat 1 Syawal digelar 4 Juli. Dia menuturkan Ramadan tahun ini akan berdurasi 30 hari. Pasalnya posisi hilal pada 4 Juli masih minus. Sehingga durasi bulan puasa digenapkan (isti'mal) jadi 30 hari. "Sehingga insyallah 1 Syawal juga kompak 6 Juli," tuturnya.


    Machasin menjelaskan masyarakat sudah tidak perlu lagi berdebat soal kompak dan perbedaan penetapan hari besar Islam. Sebab setiap ormas Islam memiliki kriteria sendiri. Khusus untuk Persis, Machasin mengatakan keputusan kapan 1 Ramadan merunut sidang isbat Kemenag. Baginya Persis belum pasti berbeda dalam mengawali bulan puasa. Di daerah tertentu, seperti di Jawa Barat, jamaah sangat banyak. (wan)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top