• Berita Terkini

    Saturday, March 5, 2016

    Tak Sekedar Seni, Macapat adalah Doa

    ISTIMEWA
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)-Macapat ternyata tak sekedar seni. Macapat merupakan sebuah doa dan rangkaian harapan dan permohonan. Itulah kesimpulan dari Pagelaran Serat Dras Sumunar, sebuah untaian geguritan dalam bentuk tembang Macapat karya seniman kawakan Tetet Srie Wd yang dibawakan di Roemah Martha Tilaar, Jalan Sempor Lama 28 Gombong, baru-baru ini.

    Karya yang ditulis selama dua tahun ketika Tetet bermukim di Paris ini dibawakan sendiri oleh penciptanya dan berkolaborasi dengan beberapa seniman. Cukup menarik bahwa mayoritas seniman yang terlibat justru adalah seniman-seniman lokal. Sebut saja Sukinah, seorang ibu guru yang aktif berkesenian. kemudian Wagimin, pria asal Jatinegara yang juga penggiat macapat di desanya. Dalam kesempatan tersebut, menunjukan nama besarnya tidak menghalangi Tetet untuk membuka kesempatan bagi beberapa “seniman dadakan” untuk ikut tampil dalam event budaya tersebut.

    Pagelaran yang diselenggarakan oleh Roemah Martha Tilaar bekerjasama dengan Komunitas Pusaka Gombong (KOPONG) itu, diawali dengan beberapa tarian dari Sanggar Tari Martha Tilaar yang kemudian dirangkai dengan teatrikalisasi macapat oleh Kelompok Teater Kopong. Serat Dras Sumunar sendiri dibawakan oleh sebelas seniman yang secara bergantian membawakan berbagai pupuh Macapat berselang-seling dengan geguritan (puisi bebahasa Jawa).

    Sekalipun sempat terjadi pemindahan tempat pagelaran karena faktor cuaca, acara itu terbilang cukup sukses dan dinikmati oleh 60 peminat macapat dari berbagai kalangan, baik dari wilayah Kebumen maupun kota-kota lain. Tampak hadir Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Pekik Satsiswo Nirmolo yang sangat mengapresiasi acara ini dan berharap adanya kegiatan serupa di masa mendatang. Hadir juga beberapa seniman dari kota lain seperti Heru S. Sudjarwo dari Banyumas, Kanjeng Adjang Mas dari Solo, Na Dhien penyair asal Salatiga, bahkan Gobind Vasdev dari Ubud, Bali.

    Satu catatan kritis adalah tidak adanya teks yang dibagikan kepada seluruh penonton sehingga menyulitkan sebagaian penonton untuk memahami isi Dras Sumunar. Apalagi banyak bagian naskah yang menggunakan bahasa Jawa bertingkat sastrawi tinggi.

    Seperti yang diungkapkan oleh Pekik, langkah Roemah Martha Tilaar ini patut mendapat apresiasi dan diharapkan menjadi momen masuknya Kebumen dalam peta kesenian nasional. Tetet bahkan secara khusus menantang para pelaku seni di Kebumen untuk melakukan festival macapat secara nasional, senyampang belum kedahuluan daerah lain.

    Sementara itu, selaku Pimpinan Roemah Martha Tilaar Sigit Tri Prabowo dalam sambutannya menegaskan komitmenya lembaga ini sebagai rumah budaya, dimana para pelaku seni mendapatkan ruang untuk berekspresi dan berinteraksi dengan penikmatnya. Diyakininya gerak berkesenian yang dinamis akan memberikan sumbangsih bagi kemajuan masyarakat Kebumen secara keseluruhan. "Ini merupakan bentuk dari nguri-uri budaya," ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top