• Berita Terkini

    Sunday, March 20, 2016

    Soal Penanganan Vanda, RSUD Kebumen Bantah Lakukan Diskriminasi

    IMAM/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Pihak RSUD Dr Sudoedirman Kebumen menampik tudingan miring soal penanganan Vanda Setianingrum,  pasien balita gizi buruk Vanda (2) warga Desa Surorejan Kecamatan Puring. Menurut Direktur RSUD Dr Soedirman Kebumen dr Bambang Suryanto M Kes, tak benar bila penangana  Vanda tak maksimal.

    RSUD, kata Bambang, telah memberikan pelayanan kesehatan sesuai  dengan standar prosedur operasional (SOP) saat merawat Vanda. Hal itu ditegaskan saat menggelar jumpa pers bersama sejumlah awak media, Sabtu (19/3/2016).

    Pernyataan ini menyusul banyaknya tudingan beberapa pihak yang mengatakan di sosial media jika RSUD Dr Soedirman telah melakukan diskriminasi dalam menangani Vanda. Bambang menegaskan, tudingan itu sama sekali tidak benar. "Vanda tidak ditarik biaya selama dalam masa perawatan di RSUD. Namun demikian, bukan berarti perawatannya berbeda dengan pasien lain. Vand diberikan semua hak pelayanan pasien," tegasnya.

    Dijelaskannya, Vanda merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Puring dengan gangguan kesehatan gizi buruk disertai dengan radang paru-paru, sesak nafas dan demam. Selain itu Vanda juga mengalami kelainan Kongenital (bawaan sejak bayi). “Vanda telah dirawat di RSUD Dr Soedirman guna menstabilkan keadaan umum pasien diantaranya, mengurangi sesak nafas dan demam,” tuturnya.

    Lebih lanjut Bambang menjelaskan  Vanda masuk dan dirawat di IGD pada Minggu (6/3) pukul 13.00 WIB. Vanda dirawat di ICU pada Senin (7/3) pukul 11.30 WIB hingga Selasa (8/3) pukul 17.00 WIB. Saat itu Vanda juga belum memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) maupun  BPJS. “Keluarga Vanda tergolong dalam keluarga yang kurang mampu, sehingga pembiayaan diusulkan melalui program Jamkesda,” tuturnya.

    Menurutnya, Vanda menderita Cerebral Palsy (CP) yakni gangguan perkembangan pada kendali otot dan gerakan yang disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen ke otak. Selain itu Vanda juga menderita laringomalasia belum kokohnya bagian laring (pita suara) guna menyokong saluran pernafasan. Sehingga asupan oksigen untuk tubuh terutama untuk otak menjadi terganggu. “Laringomalasia tersebut, juga mempengaruhi tumbuh kembang anak, disebabkan tidak normalnya penyerapan asupan gizi atau makanan,” paparnya.

    Bambang menambahkan, atas saran Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), Vanda harus dirujuk ke RSUP dr Sarjito Yogyakarta untuk mendapatkan pelayanan kesehatan lebih lanjut. Namun keluarga yang mengasuh vanda, memutuskan menolak rujukan ke RSUP dr Sarjito Yogyakarta dan menolak dirawat lebih lanjut. “Keluarga beralasan kerepotan bila terlalu lama menunggu di rumah sakit. “Dan pada Senin (14/3) pukul 14.30 WIB keluarga membawa Vanda pulang atas permintaan sendiri (APS),” ucapnya. (mam)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top