• Berita Terkini

    Monday, March 28, 2016

    Ribuan Bibit Tanaman Mati tak Terurus, Proyek Ratusan Juta Terancam Sia-sia

    KEBUMEN (kebumenekspres.com)– Program penanaman sabuk hijau (green belt) di kawasan pesisir selatan  Kebumen terancam sia-sia. Padahal, tak sedikit anggaran yang telah dikeluarkan, yakni sekitar Rp 744 juta yang bersumber APBN. Itu setelah banyak bibit tanaman yang hilang serta mati karena tak terurus.

    Pantauan koran ini di kawasan pantai Desa Tegalretno Kecamatan Petanahan, khususnya di Dusun Malang, ribuan bibit tanaman yang ditanam dalam proyek pemerintah pusat melalui kegiatan Direktorat Pesisir dan Lautan, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tak terurus.
    "Banyak bibit tanaman yang ditanam sudah hilang dan tinggal tersisa bambu penyangganya. Selain itu, banyak tanaman yang mati karena tidak dirawat,” ujar Ngawiyah (50) warga Desa Tegalreno yang sehari-hari berjualan di dekat TPI Tegalreno.

    "Bibit tanamannya kecil-kecil, bahkan untuk tanaman pandan banyak yang sudah mati sebelum ditanam,” imbuh Sardi (40) salah satu nelayan..

    Ribuan bibit tanaman penghijauan itu sendiri ditanam pada tahun 2015 lalu melalui proyek aspirasi. Adapun jenis tanaman meliputi bibit cemara laut 25.892 batang, tanaman pandan 2.547 batang dan bibit tanaman sukun 447 batang. Jumlah pengadaan bibit sekitar Rp 285 juta. Namun pada realisasinya tanaman tersebut sudah banyak yang mati karena diduga tidak dilakukan pemeliharaan sebagaimana mestinya.

    Memang dari dalam kegiatan itu, selain untuk pengadaan bibit juga ada anggaran penyapihan, penataan areal, hingga penanaman. Bahkan pasca penanaman juga dianggarkan pemeliharaan mulai dari pupuk, bibit penyulaman dengan nilai lebih dari Rp 160 juta. “Sudah beberapa bulan ini, sepertinya tidak ada perawatan,” imbuh Ngawiyah yang menyebutkan bibit sukun banyak yang mati.

    Selain itu, adanya aktivitas penambangan pasir ikut andil dalam rusaknya gumuk pasir di kawasan pantai selatan Kebumen. Ancaman makin menjadi karena saat ini sudah dibuka kawasan tambak udang.

    Namun, bila tak segera ditangani, penghijauan yang diharapkan dapat menjadikan gumuk pasir menjadi green belt alias sabuk hijau untuk mitigasi tsunami itu bisa menjadi hanya sekadar proyek. Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten di kawasan pesisir selatan yang memiliki bentukan gumuk pasir yang cukup luas. Gumuk pasir tersebut terbentang sepanjang kurang lebih sembilan kilometer dengan lebar rata-rata 800 meter ke arah daratan. “Kami berharap proyek pemerintah benar-benar dijalankan sebagaimana mestinya,” ujar warga lain yang prihatin kondisi gumuk pasir yang gersang.

    Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Kelautan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kebumen, Sri Pambudi mengatakan, upaya konservasi yang dilaksanakan di Pantai Selatan Kebumen merupakan program dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Ditjen KP3K KKP. Jadi, Kebumen hanya menyediakan lokasi.  "Dengan adanya program ini, warga masyarakat terbantu baik dalam hal menanggulangi bencana maupun peningkatan produksi pertanian. Karena keberadaan gumuk pasir dan tanaman berfungsi sebagai barrier (benteng alami) pantai," ujarnya.

    Mengenai banyaknya tanaman yang mati dan hilang, Sri Pambudi mengatakan, semestinya masih dalam tanggung jawab pihak pelaksana. "Setahu kami, program ini masih dalam tahap pemeliharaan. Adapun pelaksananya PT Assa Enginering asal Kebumen. Jadi bila ada permasalahan di lapangan, itu masih dalam tanggung jawab perusahaan bersangkutan," tuntasnya.  (cah)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top