• Berita Terkini

    Saturday, March 5, 2016

    27 Desa di Kebumen Masih "Miskin" Sinyal

    SUDARNO AHMAD/EKSPRES
    KEBUMEN (kebumenekspres.com)- Ditengah kemajuan informasi dan teknologi, 27 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Kebumen masih mengalami blank spot (daerah yang tak terjangkau sinyal) telepon seluler. Hal ini menunjukkan pembangunan di Kabupaten Kebumen masih belum merata.

    Ke-27 desa yang "miskin"sinyal telepon seluler itu, sebagian besar desa-desa yang masih sulit terjangkau sinyal operator telepon seluler itu berada di daerah perbukitan. Serta tersebar di tujuh kecamatan.

    Berdasarkan inventarisasi Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi(Dishubkominfo) Kabupaten Kebumen, jumlah kecamatan yang paling banyak memiliki daerah blank spot ialah Kecamatan Karanggayam. Yakni Desa Selogiri, Glontor, Giritirto, Ginandong, Binangun dan Desa Gunungsari.

    Kemudian Kecamatan Poncowarno, meliputi Desa Kedungdowo, Karangtengah, Kebapangan, Tirtomoyo dan Jembangan. Kecamatan Sadang di Desa Kedunggong, Cangkring, Sadang Wetan, dan Sadang Kulon. Kecamatan Sempor mayoritas yang berada di utara Waduk Sempor seperti Desa Donorojo, Somagede, Sampang danKedungwringin.

    Di Kecamatan Karangsambung ada Desa Totogan, Plumbon dan Pujotirto. Kecamatan Padurejo, Desa Kalijering dan Sendangdalem. Kecamatan Alian masih memiliki dua desa yang sulit sinyal yakni Desa Kaliputih dan Desa Tlogowulung.

    Akibatnya, selama bertahun-bertahun sampai sekarang para pemilik telepon selular di kawasan tersebut mengaku kesal atas pelayanan selular yang tanpa disertai sinyalnya.

    Akibat sinyal Ponsel sering hilang, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut merasa dirugikan. "Jelas kami merasa dirugikan. Padahal, kami sudah mengganti nomor operator selular berkali-kali, tetap saja sinyalnya jelek dan terputus-putus," kata Mustakim (37), warga Donorojo, Kecamatan Sempor, kemarin.


    Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Kebumen Nugroho Tri Waluyo, mengatakan penyebab blank spot itu dikarenakan beberapa desa tersebut terletak di perbukitan atau dikelilingi perbukitan.

    Jumlah menara di daerah daerah tersebut juga sangat sedikit, selain medan yang sulit, juga karena pihak operator enggan membangun menara komunikasi (BTS) di wilayah dimaksud. "Alasannya karen kurang memenuhi kuota perhitungan ekonomis sebuah menara telekomunikasi," kata Nugroho Tri Waluyo.

    Selain itu, belum adanya regulasi yang mengatur tentang tata letak menara baru, sehingga pihak operator hanya menempatkan BTS di daerah-daerah ramai.
    Bupati Kebumen HM Yahya Fuad, merespon keluhan dari masyarakat yang rata-rata berada di kawasan pegunungan utara tersebut. Bupati langsung memanggil para operator telepon seluler ke rumah dinasnya untuk membahas persoalan tersebut. Para provider yang hadir antara lain Telkomsel, Indosat Ooredoo, 3 Indonesia, dan Xl.

    Bupati menginginkan tidak ada lagi desa di Kabupaten Kebumen, yang "miskin" jaringan seluler. Yahya Fuad juga meminta agar para provider meningkatkan layanannya sampai ke pelosok-pelosok. "Jangan sampai ada wilayah yang tidak terfasilitasi jaringan seluler," ungkapnya. Pada kesempatan itu, Bupati juga mendengarkan langsung dari para provider kendala yang dihadapi mereka dalam menjalankan kegiatan usahanya di kebumen.(ori)

    Berita Terbaru :


    Scroll to Top